[ 1 ]
Dengan menyebut nama Allah; kalimat ini yang pertama ingin aku tuliskan setelah jeda dalam rentang waktu sekian lama aku tidak menulis apapun untuk teman-teman semua. Semoga menjadi permulaan yang memotivasi (bidayah muhriqoh) terhadap rangkaian catatan-catatan sederhanaku berikutnya, untuk terus kembali bersambung, tidak putus-putus, insya Allah.
Tentu ada beberapa alasan kenapa aku lama tidak menulis, pertama sebab kesibukanku hampir setahun ini sebagai pelajar yang sedang menempuh kewajiban mengerjakan tugas akhir di tempatku belajar (Masyru' Al-Maliky) serta sampai saat belum juga rampung (mengingat besarnya proyek yang harus kami kerjakan). Kedua, tidak banyaknya inspirasi yang melesat dalam benakku tentu karena faktor psikologis (bukan lantas aku sakit jiwa lho) yang berhubungan langsung dengan sebab pertama. Yang ketiga, capek.
Namun bukan lantas dengan itu aku pribadi diam saja, tidak, sedikit dalam tempo waktu itu aku melakukan semacam pengamatan sederhana atas beberapa peristiwa yang terjadi belakangan ini, yang banyak mengandung daya kejut layaknya pengayaan uranium. Sebab memukul langsung pada titik kesadaran karena fenomena yang sangat membingungkan membuat siapapun seolah tak berdaya mengomentari peristiwa itu, hati ingkar tapi lidah terasa kelu.
Alhasil, sebelum kembali memulai catatan-catatan sederhana ini, aku ingin sedikit mengungkap kecenderunganku dalam menulis selama ini, dengan kata lain latar belakang dari pada hampir seluruh tulisanku sejak aku memilih untuk terjun dalam dunia kepenulisan. Meski aku yakin teman-teman pasti tahu dan bisa meraba bagaimana caraku menulis jika membaca buku-buku atau artikel yang telah aku tuliskan. Dengan kontemplasi tentunya, tidak asal baca rampung sehari semalam.
Sering aku bilang, bahwa di antara ibadah ringan yang paling besar pahalanya adalah Tafakkur, atau merenung. Hampir seluruh perubahan di dunia ini, baik yang secara gradual atau frontal, permulaannya adalah melalui perenungan. Sangat banyak dalam al-Qur'an ayat-ayat yang memotivasi kita untuk merenung.
Atau dalam bahasa kerennya adalah life observation, mempelajari kehidupan, dan tentu saja untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik, setidaknya bagi diri sendiri. Dan tempat terbaik untuk mendapatkan ilmu merenung sekaligus bahannya adalah di kehidupan itu sendiri, terutama apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar.
Sebenarnya, jika kita mau mempelajari perikehidupan para Nabi, terutama kehidupan Nabi kita tercinta, Rasulullah S.a.w., kita akan tahu bahwa permulaan hidup mereka semua sebelum menjadi pengajar kehidupan sekaligus perubah wajah dunia adalah dilewati dengan perenungan, observation of life in life university, yang sangat panjang dan mendalam.
Bagaimana permulaan beliau jadi Nabi dengan menyepi 3 tahun di Gua Hira, bagaimana pula kisah Nabi Ibrahim saat mencari Tuhannya, kisah Nabi Yusuf kala di penjara, kisah Nabi Musa saat 10 tahun di Madyan, kisah Nabi Sholeh, Nabi Hud dan seterusnya, semuanya dilalui dengan perenungan yang diawali dengan kegelisahan.
Sebelumnya, harus kita bedakan antara merenung dengan melamun. Jika melamun, hanya sekedar angan kosong belaka dan tidak ada tindak lanjut. Sedangkan perenungan, selalu dimulai dengan kegelisahan atas menurunnya nilai-nilai, atau ingin menjadi lebih baik lagi, dan ditindaklanjuti dengan usaha nyata dalam merealisasikan hasil renungan dan pemikirannya itu.
Dan ekstrapolasi kurva renungan selalu menanjak pada arah positif, bukan negatif. Ini juga yang harus kita tahu. Sebab adakalanya seseorang terpekur karena pengaruh lingkungan, lalu berubah jadi negatif akibat moralnya terkorupsi setelah melalui "pembenaran-pembenaran" semu yang dipaksakan dan pergolakan batin yang terjadi dalam dirinya (dan kerap tanpa sadar dan terasa, karena terkamuflase lebih dulu oleh tipuan nafsu dan setan).
Pada dasarnya, kita semua dalam menuntut ilmu di jurusan apapun, agama atau umum, di manapun, pendidikan formal atau non formal intinya adalah pada akhirnya untuk mengenali diri sendiri, dan menggali potensi yang diciptakan Allah dalam diri kita sekaligus mengeksplorasinya untuk kehidupan dan kemanusiaan sebagai tugas utama menjadi khalifah di muka bumi, sekaligus membangun peradaban di muka bumi itu sendiri.
Seseorang yang dalam proses belajarnya tidak menyadari hal ini, hasil akhirnya selalu kurang maksimal dan dia tidak bisa memberi kontribusi apapun pada kemanusiaan meski sekedar advice, dan tentu saja ini adalah hal yang sangat disayangkan sebab artinya dia sendiri belum sukses menemukan siapa dirinya. Dan saat dia tidak mampu mengenali dirinya, besar kemungkinan dia bahkan tidak tahu siapa Tuhannya, kecuali hanya sekedar ikut-ikutan ritual nenek moyang turun temurun, jungkir walik sampe' dengkul amoh tanpa tahu apa substansi dan tujuannya.
Tentu kita tidak ingin bukan untuk hanya sekedar menjadi seperti orang kebanyakan? atau mayoritas yang termarginal, kecuali jika memang kita tidak mempunyai cita-cita serta target masa depan yang jelas. Meskipun sekedar penganut paham kebenaran hidup sederhana yang hakiki. Paling tidak kita harus punya angan ingin menjadi pewarna yang indah dalam pelangi hidup, meski sekedar noktah di sudut horizon.
Aku yakin tak satupun dari kita mau menjadi sampah yang juga selalu terlihat mencolok namun selalu berbau busuk dan sangat random (amburadul) sekali. Walau fenomena aneh yang terjadi saat ini adalah orang (terutama generasi muda) lebih banyak yang suka memilih menjadi sampah sebab segera terlihat dan segera tercium. Sebuah cara pandang yang memprihatinkan dan selalu menimbulkan sesal pada akhirnya, cepat atau lambat.
Entah orientasi apa yang mendorong sebagian besar generasi masa kini untuk beramai-ramai menjadi ampas masa, dengan tanpa berpikir panjang dan hanya untuk memenuhi kepuasan jiwa dalam tempo pendek yang selalu disertai dengan kekosongan jiwa (potensial sekali untuk menjadi edan sejak muda).
Jika kita mau membaca pelan-pelan permulaan surat al-Baqoroh, dengan sangat menakjubkan serta memukau sekali kita akan tahu apa sebenarnya tugas kita dalam hidup ini. Apa yang harus kita lakukan, apa yang harus kita hindari, jalan mana yang harus kita tempuh. Sayangnya tak banyak di antara kita yang sadar bahwa manual menempuh hidup sukses itu telah ada di tangan kita dan sejak kecil kita baca. Atau malah sengaja menyisihkannya, sekedar menjadi pajangan di sudut ruangan, atau sebagai barokah-barokahan rumah saja.
Coba baca saja satu ayat dalam al-Qur'an, pelan-pelan, resapi maknanya, kecapi manisnya, kosongkan semua benak kita, konsentrasikan pada satu ayat itu, pasti kita akan mendapatkan iluminasi, pencerahan yang luar biasa yang belum pernah kita dapatkan dan kita mendapatkan kepuasan jiwa yang luar biasa untuk menjadi charge ulang terhadap kesemangatan kita kembali dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Menilik saran Mary. J. Lore, yang kita butuhkan saat ini adalah kemampuan memanage tata cara berpikir kita. How do your thoughts rule your world. Maka kita perlu untuk think differently, think powerfully, sekaligus achieve new levels of succes. Dan inti semua itu adalah petunjuk kehidupan yang tegas menyatakan bahwa Innallah laa yughoyyiru maa bi qoumin hatta yughoyyiru maa bi anfusihim, yakni Allah tidak akan mengubah keterpurukan sebuah bangsa jika personalnya tidak mau mengubah kebiasaan buruk dan negatif dalam dirinya.
Mudahnya, jika dalam jiwa perindividu bangsa kita masih suka korupsi, maka jangan pernah mengharap bangsa ini akan maju secara ekonomi, walau zona waktunya diubah sekalipun.
Akhirnya, teman-teman pasti tahu bukuku Catatan Cinta dari Mekkah kan? Itu adalah hasil perenungan dari kejadian yang aku alami secara pribadi. Dan rangkaian catatan kali ini, aku ingin mengeksplorasi ilmu melalui kejadian yang dialami orang lain, tentu saja dengan barometer kapasitas sedikit ilmu yang aku punyai, walau sangat mungkin cara pandangku dalam beberapa momentum pasti akan berbeda dengan teman-teman, namun setidaknya hal ini memberitahukan pada kita bahwa spektrum kehidupan itu berjuta warna dan sangat indah jika kita mampu menggoreskannya dalam kanvas kehidupan, walau seperti lukisan-lukisan asal jadi tapi penuh seni semisal lukisan Pablo Piccaso atau Salvadore Dali. Wallahu A'lam.



