Senin, 28 Mei 2012

Saatnya Berpikir dengan Cara yang Berbeda

[ 1 ]


Dengan menyebut nama Allah; kalimat ini yang pertama ingin aku tuliskan setelah jeda dalam rentang waktu sekian lama aku tidak menulis apapun untuk teman-teman semua. Semoga menjadi permulaan yang memotivasi (bidayah muhriqoh) terhadap rangkaian catatan-catatan sederhanaku berikutnya, untuk terus kembali bersambung, tidak putus-putus, insya Allah.


Tentu ada beberapa alasan kenapa aku lama tidak menulis, pertama sebab kesibukanku hampir setahun ini sebagai pelajar yang sedang menempuh kewajiban mengerjakan tugas akhir di tempatku belajar (Masyru' Al-Maliky) serta sampai saat belum juga rampung (mengingat besarnya proyek yang harus kami kerjakan). Kedua, tidak banyaknya inspirasi yang melesat dalam benakku tentu karena faktor psikologis (bukan lantas aku sakit jiwa lho) yang berhubungan langsung dengan sebab pertama. Yang ketiga, capek.


Namun bukan lantas dengan itu aku pribadi diam saja, tidak, sedikit dalam tempo waktu itu aku melakukan semacam pengamatan sederhana atas beberapa peristiwa yang terjadi belakangan ini, yang banyak mengandung daya kejut layaknya pengayaan uranium. Sebab memukul langsung pada titik kesadaran karena fenomena yang sangat membingungkan membuat siapapun seolah tak berdaya mengomentari peristiwa itu, hati ingkar tapi lidah terasa kelu.


Alhasil, sebelum kembali memulai catatan-catatan sederhana ini, aku ingin sedikit mengungkap kecenderunganku dalam menulis selama ini, dengan kata lain latar belakang dari pada hampir seluruh tulisanku sejak aku memilih untuk terjun dalam dunia kepenulisan. Meski aku yakin teman-teman pasti tahu dan bisa meraba bagaimana caraku menulis jika membaca buku-buku atau artikel yang telah aku tuliskan. Dengan kontemplasi tentunya, tidak asal baca rampung sehari semalam.


Sering aku bilang, bahwa di antara ibadah ringan yang paling besar pahalanya adalah Tafakkur, atau merenung. Hampir seluruh perubahan di dunia ini, baik yang secara gradual atau frontal, permulaannya adalah melalui perenungan. Sangat banyak dalam al-Qur'an ayat-ayat yang memotivasi kita untuk merenung.


Atau dalam bahasa kerennya adalah life observation, mempelajari kehidupan, dan tentu saja untuk melakukan perubahan menjadi lebih baik, setidaknya bagi diri sendiri. Dan tempat terbaik untuk mendapatkan ilmu merenung sekaligus bahannya adalah di kehidupan itu sendiri, terutama apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar.


Sebenarnya, jika kita mau mempelajari perikehidupan para Nabi, terutama kehidupan Nabi kita tercinta, Rasulullah S.a.w., kita akan tahu bahwa permulaan hidup mereka semua sebelum menjadi pengajar kehidupan sekaligus perubah wajah dunia adalah dilewati dengan perenungan, observation of life in life university, yang sangat panjang dan mendalam.


Bagaimana permulaan beliau jadi Nabi dengan menyepi 3 tahun di Gua Hira, bagaimana pula kisah Nabi Ibrahim saat mencari Tuhannya, kisah Nabi Yusuf kala di penjara, kisah Nabi Musa saat 10 tahun di Madyan, kisah Nabi Sholeh, Nabi Hud dan seterusnya, semuanya dilalui dengan perenungan yang diawali dengan kegelisahan.


Sebelumnya, harus kita bedakan antara merenung dengan melamun. Jika melamun, hanya sekedar angan kosong belaka dan tidak ada tindak lanjut. Sedangkan perenungan, selalu dimulai dengan kegelisahan atas menurunnya nilai-nilai, atau ingin menjadi lebih baik lagi, dan ditindaklanjuti dengan usaha nyata dalam merealisasikan hasil renungan dan pemikirannya itu.


Dan ekstrapolasi kurva renungan selalu menanjak pada arah positif, bukan negatif. Ini juga yang harus kita tahu. Sebab adakalanya seseorang terpekur karena pengaruh lingkungan, lalu berubah jadi negatif akibat moralnya terkorupsi setelah melalui "pembenaran-pembenaran" semu yang dipaksakan dan pergolakan batin yang terjadi dalam dirinya (dan kerap tanpa sadar dan terasa, karena terkamuflase lebih dulu oleh tipuan nafsu dan setan).


Pada dasarnya, kita semua dalam menuntut ilmu di jurusan apapun, agama atau umum, di manapun, pendidikan formal atau non formal intinya adalah pada akhirnya untuk mengenali diri sendiri, dan menggali potensi yang diciptakan Allah dalam diri kita sekaligus mengeksplorasinya untuk kehidupan dan kemanusiaan sebagai tugas utama menjadi khalifah di muka bumi, sekaligus membangun peradaban di muka bumi itu sendiri.


Seseorang yang dalam proses belajarnya tidak menyadari hal ini, hasil akhirnya selalu kurang maksimal dan dia tidak bisa memberi kontribusi apapun pada kemanusiaan meski sekedar advice, dan tentu saja ini adalah hal yang sangat disayangkan sebab artinya dia sendiri belum sukses menemukan siapa dirinya. Dan saat dia tidak mampu mengenali dirinya, besar kemungkinan dia bahkan tidak tahu siapa Tuhannya, kecuali hanya sekedar ikut-ikutan ritual nenek moyang turun temurun, jungkir walik sampe' dengkul amoh tanpa tahu apa substansi dan tujuannya.


Tentu kita tidak ingin bukan untuk hanya sekedar menjadi seperti orang kebanyakan? atau mayoritas yang termarginal, kecuali jika memang kita tidak mempunyai cita-cita serta target masa depan yang jelas. Meskipun sekedar penganut paham kebenaran hidup sederhana yang hakiki. Paling tidak kita harus punya angan ingin menjadi pewarna yang indah dalam pelangi hidup, meski sekedar noktah di sudut horizon.


Aku yakin tak satupun dari kita mau menjadi sampah yang juga selalu terlihat mencolok namun selalu berbau busuk dan sangat random (amburadul) sekali. Walau fenomena aneh yang terjadi saat ini adalah orang (terutama generasi muda) lebih banyak yang suka memilih menjadi sampah sebab segera terlihat dan segera tercium. Sebuah cara pandang yang memprihatinkan dan selalu menimbulkan sesal pada akhirnya, cepat atau lambat.


Entah orientasi apa yang mendorong sebagian besar generasi masa kini untuk beramai-ramai menjadi ampas masa, dengan tanpa berpikir panjang dan hanya untuk memenuhi kepuasan jiwa dalam tempo pendek yang selalu disertai dengan kekosongan jiwa (potensial sekali untuk menjadi edan sejak muda).


Jika kita mau membaca pelan-pelan permulaan surat al-Baqoroh, dengan sangat menakjubkan serta memukau sekali kita akan tahu apa sebenarnya tugas kita dalam hidup ini. Apa yang harus kita lakukan, apa yang harus kita hindari, jalan mana yang harus kita tempuh. Sayangnya tak banyak di antara kita yang sadar bahwa manual menempuh hidup sukses itu telah ada di tangan kita dan sejak kecil kita baca. Atau malah sengaja menyisihkannya, sekedar menjadi pajangan di sudut ruangan, atau sebagai barokah-barokahan rumah saja.


Coba baca saja satu ayat dalam al-Qur'an, pelan-pelan, resapi maknanya, kecapi manisnya, kosongkan semua benak kita, konsentrasikan pada satu ayat itu, pasti kita akan mendapatkan iluminasi, pencerahan yang luar biasa yang belum pernah kita dapatkan dan kita mendapatkan kepuasan jiwa yang luar biasa untuk menjadi charge ulang terhadap kesemangatan kita kembali dalam menjalani aktivitas sehari-hari.


Menilik saran Mary. J. Lore, yang kita butuhkan saat ini adalah kemampuan memanage tata cara berpikir kita. How do your thoughts rule your world. Maka kita perlu untuk think differently, think powerfully, sekaligus achieve new levels of succes. Dan inti semua itu adalah petunjuk kehidupan yang tegas menyatakan bahwa Innallah laa yughoyyiru maa bi qoumin hatta yughoyyiru maa bi anfusihim, yakni Allah tidak akan mengubah keterpurukan sebuah bangsa jika personalnya tidak mau mengubah kebiasaan buruk dan negatif dalam dirinya.


Mudahnya, jika dalam jiwa perindividu bangsa kita masih suka korupsi, maka jangan pernah mengharap bangsa ini akan maju secara ekonomi, walau zona waktunya diubah sekalipun.


Akhirnya, teman-teman pasti tahu bukuku Catatan Cinta dari Mekkah kan? Itu adalah hasil perenungan dari kejadian yang aku alami secara pribadi. Dan rangkaian catatan kali ini, aku ingin mengeksplorasi ilmu melalui kejadian yang dialami orang lain, tentu saja dengan barometer kapasitas sedikit ilmu yang aku punyai, walau sangat mungkin cara pandangku dalam beberapa momentum pasti akan berbeda dengan teman-teman, namun setidaknya hal ini memberitahukan pada kita bahwa spektrum kehidupan itu berjuta warna dan sangat indah jika kita mampu menggoreskannya dalam kanvas kehidupan, walau seperti lukisan-lukisan asal jadi tapi penuh seni semisal lukisan Pablo Piccaso atau Salvadore Dali. Wallahu A'lam.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Kamis, 24 Mei 2012

Mencabuti Bulu Ketiak di Depan Umum

Jangan merasa bau dulu, atau merasa jorok sebelum membaca catatan ini, meski judulnya bau banget.

 

Cerita yang bisa jadi lucu ini, adalah di antara sekian kisah yang aku terima dari Babaku beberapa tahun silam saat aku masih dalam tahap belajar dengan beliau. Sekali lagi, memang hanya sekedar kisah. Tetapi kisah apapun, selalu menyimpan pesan kehidupan.

 

Hanya tinggal kita, pendengar atau pembaca kisah, bisa tidak mengambil pesan yang tersirat di balik setiap kisah itu?

 

Seperti biasa, sebagai penghilang ketegangan belajar, Baba menyisipkan sebuah kisah pada kami yang mengundang tawa geli.

 

Diceritakan, suatu hari ada acara resepsi pernikahan salah satu putri pejabat penting. Dan pejabat tersebut punya kenalan akrab seorang Kyai. Bahkan keduanya adalah sahabat erat.

 

Seperti umumnya resepsi atau acara apapun di kalangan pejabat, ikhtilat atau bercampur antara laki-laki dan perempuan adalah hal biasa yang tak asing. Meski tentu saja hal ini tidak lah dibenarkan secara syariat.

 

Berbeda dengan Kyai tadi yang pasti tentunya sangat asing dengan suasana resepsi bercampur seperti itu.

 

Alhasil, Pak Kyai diundang oleh pejabat yang jadi sahabatnya itu. Dan di tempat acara, Pak Kyai hadir dengan penuh rasa risih, dan rasa ingkar yang luar biasa. Kok kayak gini ini? Bagaimana sih? Laki-laki perempuan bercampur jadi satu.

 

Pak Kyai pun komplain pada sahabatnya, tetapi kali ini sahabatnya cuek saja. Merasa dicuekin, beliaupun mulai komplain sana-sini perihal resepsi yang menurutnya keluar dari tatanan syariat itu. Namun hasil komplain beliau nihil.

 

Akhirnya, dengan penuh rasa geram, beliau mengambil kursi dan duduk di tengah-tengah hadirin yang sedang asyik menikmati jamuan. Segera beliau melepas bajunya, dan mulai mencabuti bulu ketiak beliau di tengah hadirin sambil bersikap cuek sekali.

 

Tentu saja seketika terjadi kehebohan, pemilik acara, sang pejabat tadi tentu bingung, merasa malu dan segera menegur sahabatnya, Kyai itu. "Pak Kyai, kok nggak sopan gini sih? Masa' cabutin bulu ketiak di acara gini?"


Dengan berang Pak Kyai segera menjawab, "Kamu ini yang aneh. Masih mending cabutin bulu ketiak, sunnah. Daripada ikhtilat campur baur kayak gitu, jelas haram". Pak Pejabat pun terdiam, dan tempat acara segera dipisah antara laki-laki dan perempuan.

 

@ @ @

 

Jika kita melihat dengan jeli dalam keseharian kita, banyak sekali saat ini hal-hal yang baik secara moral, atau hal-hal yang bahkan merupakan sunnah Nabi dan kewajiban syariat, yang kini terasa asing jika ada yang melakukannya.

 

Ironisnya, hal-hal yang dulu dianggap tabu, bahkan tercela dan sangat aib. Kini menjadi sangat biasa sekali. Seolah tak ada apa-apa.

 

Kalau ada orang mengajak pada kebaikan, kita melihat orang itu dengan penuh keheranan, bahkan risih, lebih parah lagi menolak. Melihat orang tidak punya pacar misalkan, dianggap sangat aneh.

 

Sebaliknya, sekarang mendengar muda-mudi berciuman, atau bahkan -ma'adzallah- lebih daripada itu, biasa-biasa saja, mungkin hanya bergidik sebentar, tetapi setelah itu hilang. Padahal dulu ketahuan berkirim surat cinta saja, aibnya sudah tidak ketulungan.

 

Entah, benar apa yang dikatakan Nabi S.a.w, bahwa agama ini datang dalam keadaan asing, dan akan jadi asing lagi seperti semula, meskipun di tengah pemeluknya sendiri. Maka beruntunglah orang-orang yang dipandang asing itu (Ghuroba')

 

Lain dari itu, di antara pelajaran penting adalah bagaimana cara kita bersikap saat melihat sesuatu yang bertentangan dengan moral dan syariat. Tidak dibenarkan kita mendiamkannya begitu saja tanpa perasaan apapun.


Setidaknya ada tiga opsi yang diberikan syariat saat kita melihat ketidakberesan.

Pertama, merubahnya dengan tangan kita, dengan kekuatan, jika kita punya power dan wewenang untuk itu.

Kedua, jika tidak bisa dengan tangan, maka dengan lisan kita, melalui nasehat, teguran atau bentakan.

Ketiga, jika tidak bisa semua, maka dengan ingkar dalam hati, menyatakan bahwa perbuatan amoral itu salah. Dan ini tingkatan iman terendah.


Akhir catatan, saatnya mengkoreksi diri, apakah kita ini termasuk orang yang kerap memandang asing sebuah kebaikan, atau termasuk orang yang dianggap asing? Jika masuk yang pertama, maka perlu untuk membenahi diri, terutama hati. Dan jika masuk golongan kedua, bersyukurlah pada Allah serta tetap menetralkan hati dalam keikhlasan.

 

Semoga kita masuk golongan yang beruntung, golongan Pak Kyai pencabut bulu ketiak di depan umum tadi... Amin (*)


Published with Blogger-droid v2.0.4

Jumat, 11 Mei 2012

Memberi Nama Bayi

(+) Bukan sekali dua kali aku pribadi diminta tolong oleh para sahabat (terutama ibu-ibu muda) untuk membantu memberi nama bayi mereka yang barusan lahir.


Biasanya mereka meminta nama-nama yang Islami dan bermakna bagus, tentu saja dengan suka cita aku carikan buat mereka nama-nama yang dipesan, dan biasanya aku beri 3 pilihan (meniru cara Babaku dalam memberi nama bayi).


Dan untuk stok nama-nama itu, alhamdulillah tidak kekurangan sebab biasanya aku ambilkan nama para ulama' salaf kita, atau jika bayi cewek kuberi nama-nama para shalihat. Tentu dengan harapan kelak bayi-bayi itu jika telah dewasa bisa seshalih nama yang disandangnya, amin.


Tapi kadang juga aku menghadapi request aneh, tolong Tadz carikan nama yang islami yang modern yang bagus artinya. Nah Islami yang modern ini bagaimana? Kerap aku bingung. Pernah ada salah satu ibu muda yang sudah kuberi tiga pilihan nama islami tapi semua ditolak dengan alasan beraroma kuno.


Biasanya kalau sudah gini, tanpa pikir panjang, aku carikan nama pemain bola. Dan seperti beberapa hari lalu, saat sekitar dua kali pilihan nama dariku ditolak, akhirnya aku vonis nama buat anaknya, "Nih namai anakmu, Samuel Muhammad, bagus ini, modern, kayak nama pemain bola, tapi juga nama Nabi. Gabungan Nabi Samuel dan Nabi Muhammad." Dan semoga ibu muda tadi menerima.


--- ooo ---


Saat masih masa mudanya babaku dulu, waktu beliau masih usia remaja dan mendaftarkan diri di salah satu pesantren di Jawa Tengah, beliau kebetulan mendaftar dengan santri baru yang diantar bapaknya.


Waktu di ndalemnya Kyai, bapak itu ditanya, siapa nama anakmu? Dijawab oleh bapak itu, bahwa nama anaknya adalah "Parji".


"Hah? Parji?" Tanya Kyai penuh keheranan, pasti dalam hatinya beliau bergumam, anak kok dinamai nama vagina. Dalam bahasa Arab, vagina adalah "Farji".


"Nggeh Kyai, sebab anak saya ini lahir bulan Sapar tanggal siji (satu), makanya namanya Parji." Jawab bapak itu lugas.


"Kok nggak Jipar aja," celetuk Abah Kyai.


--- ooo ---


Di desaku, ada sebuah fenomena unik, boleh dibilang budaya menyendiri, yaitu tak satupun orang di desaku yang dipanggil dengan nama aslinya. Semuanya hampir pasti mempunya julukan, dan rata-rata jeleknya minta ampun, bahkan terkadang ada yang jorok.


Karlak, Topek, Jotang, Jotak, Rimang, Rabun, Mat Dobeng, Mat Gawul, Mat Iteng, Tunek, Yayung, Menyok, Taker, Bithor dan lain sebagainya julukan yang sangat aneh dan aku pribadi tidak tahu bermakna apa. Boleh jadi hanya keluargaku yang sejak dulu selamat dari julukan aneh-aneh ini.


--- ooo ---


Mungkin, tak ada ajaran moral selengkap dalam Islam, makanya orang-orang Yahudi pada era Nabi pernah terheran-heran dan bertanya apakah Nabimu mengajarkan semuanya sampai tatacara buang air?


Dan tentu saja dalam hal ini adalah nama. Islam begitu memperhatikan keberadaan nama, sebab nama cukup berpengaruh pada identitas seseorang. Oke, bolehlah Shakespeare bilang bahwa apalah arti sebuah nama. Tapi kalau aku bilang, Itu pernyataan dari orang yang sedang mengalami gangguan kejiwaan saat menyatakan statemen tadi.


Nabi sendiri memperhatikan hal ini, beberapa kali beliau mengganti nama sahabatnya, yang asalnya bermakna kurang bagus, diganti menjadi bagus. Semisal Hazan (keras), diganti Sahl (mudah). Sebagaimana beliau sering berharap baik (tafa-ul) pada nama yang baik.


Di al-Qur'an sendiri, tepatnya di surat al-Hujurot terdapat larangan tegas untuk memberi julukan yang jelek. (Wa laa tanabazu bil alqob, bi'sa-lismul fusuqu ba'dal iman). Dan terusan ayat cukup keras, bahwa siapa yang tidak bertaubat dari memberi julukan atau memanggil nama buruk, maka dia termasuk orang yang dzalim.


Dan kedzaliman, adalah kegelapan di hari kiamat.


Pada akhirnya, beri nama anak-anak kita, adik-adik kita dengan nama yang baik, nama yang berkontain doa, tidak sekedar keren-kerenan saja atau mengikuti trend. Meski Islam memberikan kebebasan soal memberi nama asal tidak jelek saja.


Akhir catatan, aku bersama teman-teman pernah membahas nama-nama yang berarti bagus dan elegan dalam bahasa Arab, tetapi tidak bisa digunakan di Indonesia sebab bisa diplesetkan sangat parah. Nama tersebut berarti "Hujan rintik-rintik yang menyejukkan di siang hari", dan kebetulan bahasa Arabnya adalah "Thol".


Published with Blogger-droid v2.0.4

Rabu, 09 Mei 2012

Budaya Mengintimidasi Kaum Wanita

Teman-teman pasti masih ingat saat bulan Ramadhan kemarin aku menjadikan postingan harian pada notesku seluruhnya berhubungan dengan wanita (hingga tak terasa terkumpul menjadi satu naskah. Meski sampai sekarang masih belum naik cetak jadi sebuah buku manual yang bisa dibawa kemana-mana).


Alhasil dalam tulisan-tulisanku itu, aku (dengan batas ilmu dan pengetahuanku mengenai kaum wanita) berusaha sebisa mungkin untuk menyeimbangkan dan meluruskan pandangan di masyarakat mengenai sikap syariat terhadap wanita (meski masih objektif dalam beberapa penilaian), bahkan banyak dalam hal aku pribadi membela hak-hak wanita tentu saja sesuai dengan pandangan syariat.


Sampai kadang-kadang aku merasakan diri berubah menjadi seorang aktivis feminis. Walau tentu saja bukan aktivis feminis yang memperjuangkan emansipasi secara mutlak hingga melewati batas kodrati penciptaan dengan lebih mengindikasikan perjuangannya (kalau boleh dibilang "perjuangan") untuk mengeksploitasi dan memperalat kaum wanita agar tampil telanjang di depan umum.


Itupun, dengan usahaku yang seperti itu, aku masih dinilai sebagai seorang muslim yang berpikiran fundamentalis dan menjadikan budaya Timur Tengah sebagai satu-satunya landasan untuk menilai wanita dengan tanpa melihat budaya yang berlaku di tanah air.


Lah aku ini lalu menulis untuk siapa kalau bukan untuk wanita muslimah Indonesia yang kesehariannya berbudaya Indonesia? Apa posisi menulis dijadikan alasan bahwa keberadaan seseorang di tempat itu berpengaruh seluruhnya (catat, "seluruhnya") dalam tata cara pandangnya?


Well, alhasil, setelah sering aku pikir, sebenarnya menulis tentang wanita itu, apapun latar belakang penulisnya (liberal, moderat, fundamental, atheis, sosialis, kapitalis, sekuler, radikal), ternyata lebih sulit daripada menulis file-file tentang politik, ekonomi, atau file rahasia yang berhubungan dengan keamanan negara. Hal ini juga dikatakan oleh kolumnis terkemuka Mesir yang esai ringannya setiap hari menghiasi harian Asharq al-Awsat, Emadeddin Adib. 


Namun yang pasti, sepertinya, kaum wanita sejak dulu selalu menjadi sasaran intimidasi dan tekanan kaum pria, bahkan sampai batas menyalahgunakan teks agama sebagai pembenar tindakan yang kerap kali keluar dari logika dan perikemanusiaan.


Jargon kebebasan dan persamaan yang kerap kali diteriakkan para pejuang kesetaraan gender pun jika dicermati secara jeli tetap juga secara tidak terus terang menindas kaum wanita dengan menjadikan mereka sebagai budak nafsu atas diri mereka sendiri.


Dan selama itu juga, sejak dulu sampai sekarang, mayoritas kaum wanita terlihat pasrah dengan keadaan yang menimpanya. Meski ada beberapa sosok dari mereka yang muncul ke permukaan, namun dominasi kaum pria tetap selalu terlihat menonjol sepanjang masa.


Mengutip perkataan Emaduddin Adib, Beliau dalam tulisannya menyatakan, bahwa sebenarnya hampir seluruh kebudayaan di dunia bertindak tidak adil bahkan mengintimidasi kaum wanita, apapun bentuk budayanya. Dan di belahan dunia manapun, kaum wanita pasti merasakan bahwa di sana memang ada konspirasi kaum pria untuk selalu menganggap mereka lemah dan bisa diperalat. Apapun perbedaan kebudayaan dan kewarganegaraan mereka.


Cukup dengan melihat beberapa peribahasa yang beredar di masing-masing kebudayaan dunia, tanpa harus capek-capek melakukan penelitian, kita bisa melihat bagaimana tata cara berpikir yang menancap hampir pada seluruh bangsa sejak dulu dan di manapun (dengan tanpa melihat agama), bahwa kaum pria selalu merasa unggul atas wanita dan ujung-ujungnya selalu berusaha mencibir yang lebih berkesan merendahkan kaum wanita.


Dan biar catatan ini tidak sekedar perspektif saja, coba kita lihat sebagian peribahasa dunia tentang wanita yang tersusun dari tata cara pandang itu:


Peribahasa Slovenia menyatakan, bahwa "berbicara pada seorang pria itu kata-kata masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Tapi kalau berbicara dengan wanita, kata-kata masuk ke kedua telinganya dan keluar dari mulut."


Peribahasa India mengatakan, "kaum wanita memang memiliki bibir yang manis bak madu, tapi hati mereka penuh racun."


Kalau peribahasa Cina berbunyi, "bibir wanita memang semanis semangka, tapi hatinya pahit seperti kulit semangka."


Berbeda lagi dengan peribahasa rakyat Israel, kata mereka: "sebelum menikah, seorang gadis mempunyai tujuh tangan dan satu mulut, tapi setelah menikah, dia punya tujuh mulut dan hanya satu tangan."


Kalau di Iran, peribahasanya berbunyi: "Jika seorang wanita itu buruk perilakunya, maka jenggot suaminya akan lebih cepat beruban."


Peribahasa Rumania agaknya sedikit sadis, kata mereka: "seorang wanita, tidak akan menyusui anaknya kecuali anaknya pas menangis saja."


Sedangkan orang Rusia bilang: "Istri itu fungsinya untuk dinasehati, mertua untuk dihormati, dan tak ada yang seindah kasih sayang ibumu."


Adapun peribahasa Polandia mengatakan: "Gadis cantik yang menikah dapat pria tua, itu seperti buku untuk orang buta huruf."


Dan yang teraneh, serta bisa membuat kita berpikir lama, adalah peribahasa Prancis yang beredar setelah Revolusi Prancis yang terkenal itu. Mereka bilang: "Wanita adalah sabunnya pria".


Akhir catatan, ini bukan aku lho ya yang bilang... dan kalimat terbaik tentang wanita, adalah yang dikatakan Nabi, bahwa wanita adalah belahan pria..."an-nisa' syaqo-iqur rijal".


Published with Blogger-droid v2.0.4

Selasa, 08 Mei 2012

Khutbah Jumat Pake Slide?

Seperti biasa jika menjelang tidur, sering kali terlebih dahulu aku melihat-lihat Twitter, mengikuti sejenak apa saja aktivitas para orang populer (artis, pejabat, penulis papan atas, olahragawan, dll) ataupun cuap-cuap teman-temanku di jaringan sosial ringkas tersebut.


Dan di tengah-tengah aku membaca satu persatu timeline, aku dikejutkan tentang bahwa di masjid UI dan beberapa masjid di Malay, khutbah jumatnya menggunakan slide. Seketika timbul pertanyaan fiqih dalam hatiku, khutbah menggunakan slide? Bolehkah? Benar-benar fenomena baru sekaligus terbersit sedikit perasaan ada hawa tidak beres.


Memang hal ini boleh dibilang tidak (atau belum) populer. Namun lambat laun pasti akan menimbulkan keramaian, jika tidak boleh dibilang keributan atau fitnah. Dan sebatas pengetahuanku, Majma' (konferensi) Fiqih di manapun belum membahas hal ini.


Tetapi tidak ada salahnya jika kita mengutak-atik pertanyaan ini, sebagai asumsi (iftirodhi) saja, sebagaimana yang dahulu sering dilakukan para salaf shalih kita untuk menjawab sebuah pertanyaan atas hukum yang sebenarnya belum terjadi. Hanya perkiraan saja.


Namun yang pasti, catatan ini hanyalah sekadar inferensi (istidlal) dan eksplorasi (istinbath) pribadi saja, berdasar aplikasi-aplikasi syariat yang aku pelajari selama ini, dan bukan jawaban final atas pertanyaan di atas. Jadi jangan dijadikan acuan, namun cukup sebagai gambaran umum saja jika suatu saat pertanyaan ini (khutbah pakai slide) muncul di permukaan.


Istilahnya, jaga-jaga saja.


Well, kembali kepada bahasan. Apakah bisa khutbah pakai slide? Meski memang terbukti efektif menghilangkan kantuk para audiens, para jamaah, sebuah fenomena umum menyedihkan di manapun yang selalu mengiringi ibadah shalat jumat yang agung.


Boleh jadi banyak yang suka dan pasti setuju dengan "terobosan baru" pengusir kantuk ini, namun permasalahannya, ini adalah ritual ibadah, dan ritual ibadah tidak berhubungan dengan konservatif atau modern. Ritual Ibadah sejak pertama kali ditetapkan, akan terus seperti itu dan tidak menerima perubahan apapun. Kecuali jika ada dispensasi syariat khusus dengan dalil pasti.


Memang harus diakui bahwa saat ini khutbah jumat tidak mempunyai pengaruh signifikan dalam merubah keadaan (dan ini umum di semua dunia Islam), namun apa lantas dengan tidak merubah keadaan dan biar merubah sehingga ritualnya dimasuki sesuatu?


Jika kita tidak sensitif dengan kata bid'ah, maka khutbah menggunakan slide ini jelas sekali masuk dalam kategori bid'ah. Walau tentu membutuhkan perincian lagi bid'ah yang bagaimana. Semisal penggunaan michrophone untuk adzan.


Akan tetapi khutbah tidaklah seperti adzan. Jumatan tanpa adzan bisa masih sah, tapi tanpa khutbah, maka jumat tidak sah. Dengan kata lain, khutbah adalah rukun. Nah apakah rukun menerima pembaharuan?


Kaidah menyatakan bahwa segala hal yang berhubungan dengan ritual ibadah tidak menerima perubahan apapun, sebab dalil-dalil ibadah adalah qoth'iy (pasti), berbeda dengan mu'amalah (interaksi sosial) yang qoth'iy secara hukum dasar umum dan dhonniy (belum pasti) pada keadaan tertentu yang membuka peluang untuk menggali dan menentukan hukum baru.


Maka jika melihat hal-hal di atas, dariku pribadi, penggunaan slide untuk khutbah tidaklah begitu diperkenankan. Sebab seperti halnya haji yang prosesi pelaksanaannya tanggal 9 Dzul Hijjah saja, kenapa tidak bebas di hari apa saja sepanjang bulan Syawwal sampai Dzul Hijjah?


Jawabannya sebab ini adalah ritual ibadah, apalagi ibadah wajib, dan ritual itu mencontoh langsung dari Nabi. Seseorang tidak bisa membuat-buat sendiri bentuk ritual ibadah baru (jika tidak pada nantinya dibilang sesat).


Oke, masih sangat mungkin jika khutbahnya disyuting. Tetapi khutbah menggunakan slide sementara imamnya bisa jadi sibuk dengan slide-nya itu, atau setidaknya operatornya yang ribut dengan komputer/laptop/netbooknya? Sementara keharusan para audiens jamaah jumat saat khatib berkhutbah adalah MENDENGARKAN DENGAN SEKSAMA, tidak diributkan dengan hal lain yang bahkan jika audien itu berbicara sedikit saja bisa membatalkan pahala jumatnya, terlebih ini menggunakan slide yang jelas memecah konsentrasi jamaah dan Imam/Khatib sekaligus?


Pada akhirnya, satu hal yang mesti perlu aku ingatkan pada pembaca semua. Semua hal memang terus berubah, banyak menuntut dicetuskannya hukum-hukum baru. Namun ritual ibadah, sedikitpun tidak akan berubah, meski zaman dan teknologi berkembang seperti apa saja. Sholat dhuhur selamanya 4 rakaat, tidak akan berkurang atau bertambah (kecuali jika ada dispensasi syariat secara khusus). Hal itu, di samping memang tuntunan aslinya, juga untuk menjaga kesakralan ritual itu sendiri.


Akhir catatan, hati-hati dengan fitnah masa kini yang mencampur adukkan antara fakta dan kebohongan. Kembalilah kepada para Ulama', para Habaib, para Kyai, yang mumpuni dan kredibilitas keilmuannya diakui. Jangan hanya dari baca-baca sendiri atau dari ustadz yang nggak jelas transmisi sanad keilmuannya. Wallahu a'lam.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Renungan

Hal yang saat ini begitu aneh adalah banyak orang menuntut haknya untuk dipenuhi, tetapi dia tidak menjaga hak orang lain


Published with Blogger-droid v2.0.4

Senin, 09 April 2012

[Info Buku] Rasulullah Saw: Guru Paling Kreatif, Inovatif dan Sukses Mengajar


Judul Buku : Rasulullah Saw; Guru Paling Kreatif, Inovatif & Sukses Mengajar
Penulis : Awy' A. Qolawun
Genre : Buku Solo Non Fiksi
Penerbit : Diva Press
Terbit : Maret 2012

[Info Buku] Bengkel Jiwa

cover lama

cover lama

cover baru


Sebuah buku yang sengaja dalam tutur bahasanya seolah mengajak pembaca untuk berimajina si mengendara i mobil, terinspira si dari sebuah hadits bahwa kita hidup di dunia ini adalah laksana musafir yang bertravell ing keliling berbagai benua, dari negara ke negara.


Berangkat dari kenyataan bahwa lembaran-lembaran kuno nan sakral terasa kian menjauh dari kita seiring dengan makin merenggang n...ya masa. Yang pada saat yang sama pula, membuat kita semakin terombang- ambing tak tentu arah karena terlalu sedikitnya petunjuk dan peta yang kita terima untuk menempuh jalan hidup yang kian berombak ganas.
Adalah "Qobasat Islamiyyah ", tulisan Ustadz Ahmad Al-Qollash , pemikir Islam asal Syria. Buku itulah yang dengan deras mengguyur inspirasi pada Awy A Qolawun untuk menulis buku sederhana yang berbicara tentang konsep-kon sep sederhana pembenahan jiwa untuk melanjutka n perjalanan menempuh kehidupan. Hampir seluruh isi buku ini, adalah petikan dan perluasan bahasan dari buku "Qobasat Islamiyyah ".

Judul buku : Bengkel Jiwa
Penulis : Awy' A Qolawun
Penerbit : Lini Menara-lini Hasfa Publishing
Genre : Buku Solo Non Fiksi
Terbit : Agustus 2011
Order : via message ke inbox fb hasfa publisher atau SMS 081 914 032 201
ISBN 978-602-98 570-0-9